Minggu, 30 Maret 2014

peran agama dalam membangun budaya lokal

Peran  agama dalam membangun budaya lokal
1.      Pendahulan

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi , peran agama dalam membangun budaya sosial sangat berpengaruh,karena berbicara mengenai agama, maka kita akan bebicara mengenai iman atau keyakinan. Dalam perjalanan umat manusia yang sudah berjalan cukup lama,kebudayaan sebagai salah satu hasil karya manusia mulai dari jaman dahulu hadir sebagai identitas yang menjadikan seseorang dari latar belakang budaya tertentu menjadi lebih khusus dibanding dengan orang lain yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.

                        Rumusan masalah :

1.      Apa hubungan agama Islam dengan budaya lokal?
2.      Apa fungsi agama terhadap budaya lokal?

Makalah ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang bagaimana peran agama dalam membangun budaya sosial.Bagaimana pengaruh agama terhadap budaya sosial dan apa arti dari budaya itu sendiri.

2.      Pembahasan

 HUBUNGAN ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL

Agama Islam membiarkan kearifan lokal dan produk-produk kebudayaan lokal yang produktif dan tidak mengotori aqidah untuk tetap eksis. Jika memang terjadi perbedaan yang mendasar, agama sebagai sebuah naratif yang lebih besar bisa secara pelan-pelan menyelinap masuk ke dalam “dunia lokal” yang unik tersebut. Mungkin untuk sementara akan terjadi proses sinkretik, tetapi gejala semacam itu sangat wajar, dan in the long run, seiring dengan perkembangan akal dan kecerdasan para pemeluk agama, gejala semacam itu akan hilang dengan sendirinya.

FUNGSI AGAMA TERHADAP PERKEMBANGAN DAN PERUBAHAN BUDAYA

Dalam konteks sosial, hubungan fungsional antara agama dan masyarakat sejauh menekankan aspek-aspek yang rasional dan humanis, atau sosial karitatif dalam masyarakat, dapat disebut sebagai suatu historical force yang turut menentukan perubahan dan perkembangan masyarakat.

Dalam hubungan ini, dapat dikatakan bahwa agama mampu menjadi katalisator pencegah terjadinya disintegrasi dalam masyarakat. Dan lebih dari itu, dengan kekuatan yang dimilikinya, agama dapat diharapkan membangun spiritualitas yang memberi kekuatan dan pengarahan dalam memecahkan segala problem sosial, mengatasi rasa frustrasi sosial, penindasan dan kemiskinan. Sosiolog Peter L Berger (1991) mengemukakan hal yang sama, bahwa agama merupakan sistem simbolik yang memberikan makna dalam kehidupan manusia yang bisa memberikan penjelasan secara meyakinkan, serta paling komprehensif tentang realitas, tragedi sosial dan penderitaan.

Memahami agama sebagai gejala kebudayaan tentu bersifat kontekstual, yakni memahami fenomena keagamaan sebagai bagian dari kehidupan sosial kultural. Dalam hal ini agama dikembalikan kepada konteks manusia yang menghayati dan meyakininya, baik manusia sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

3.       Penutup

Sejalan dengan perkembangan budaya dan pola berpikir masyarakat yang materialistis dan sekularis, maka nilai yang bersumberkan agama belum diupayakan secara optimal. Agama dipandang sebagai salah satu aspek kehidupan yang hanya berkaitan dengan aspek pribadi dan dalam bentuk ritual, karena itu nilai agama hanya menjadi salah satu bagian dari sistem nilai budaya; tidak mendasari nilai budaya secara keseluruhan.
Aktualisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sekarang ini menjadi sangat penting terutama dalam memberikan isi dan makna kepada nilai, moral, dan norma masyarakat. Apalagi pada masyarakat Indonesia yang sedang dalam masa pancaroba ini. Aktualisasi nilai dilakukan dengan mengartikulasikan nilai-nilai ibadah yang bersifat ritual menjadi aktivitas dan perilaku moral masyarakat sebagai bentuk dari kesalehan social.

Referensi :

http://www.awankpoenya.co.cc/2008/11/era-informasi-dan-globalisasi-sebagai_13.html

 Nama  : Mahigbal Kelana Lubis
Npm    : 15113234
Kelas   : 1ka08

Tidak ada komentar:

Posting Komentar